Ilustrasi Gambar: "Semar Adu Jago" karya Sudjiwo Tedjo (IG: @president_jancukers)
Penulis: Fachri Sakti
Nugroho
Goro-goro! Sebuah segmen dalam
pagelaran kesenian Wayang Kulit yang menceritakan tentang adanya musibah besar
yang melanda umat manusia karena kesewenang-wenangan dibiarkan berkuasa dan
menindas kebenaran.
Goro-goro!
Goro-goro zaman kala bendu
Wulangane Agama ora digugu
Sing bener dianggep keliru, sing salah malah ditiru
Bocah sekolah ora gelem sinau
Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru
Pancen perawan saiki ayu-ayu
Ana sing duwur tur kuru, ana sing cendek tur lemu
Sayang sithik, senengane mung pamer pupu
Goro-goro! Membaca Kondisi Sosial, Mungkinkah Indonesia Memasuki
Zaman Kalabendu? Pertanyaan tersebut mungkin terlalu berlebihan untuk
dilontarkan guna memaknai kondisi Indonesia hari ini. Jawabannya pun relatif
tergantung pembacaan setiap orang masing-masing. Namun jika kita menilik pada
peristiwa aksi demonstrasi mahasiswa di beberapa daerah, aksi demonstrasi guru
honorer, oknum pejabat negara saling tuding, dolar melangit, dan pertempuran para
tim pemenangan Pemilu Presiden (Pilpres) yang kian memperkeruh suasana, kita
patut menaruh curiga, bahwa negeri ini tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik
saja.
Kekacauan di atas mungkin saja
ada hubungannya dengan momentum tahun politik. Karena sejak penulis melawati
dua kali Pilpres, penulis merasa, mendekati tahun politik, negeri ini selalu
dilanda permasalahan. Misalnya, pada 2009 ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
kembali maju Pilpres, saat itu harga Bahan Bakar Minyak (BBM) naik tinggi dan
demo besar-besaran terjadi di berbagai daerah.
Lima tahun setelah itu, jelang
Pilpres 2014, masyarakat Indonesia dibelah menjadi dua kubu, yakni pendukung
Jokowi dan Prabowo. Isu yang santer dibicarkan saat itu adalah soal tudingan
bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI), SARA dan kasus pelanggaran HAM yang
terjadi di masa Orba. Kini, mendekati Pilpres 2019, kemungkinan besar kita akan
menghadapi masalah serupa.
Kembali kepada pelbagai peristiwa
yang kini melanda Indonesia. Terkait aksi demonstrasi yang dilakukan oleh
mahasiswa, sebagian orang mungkin bertanya, kenapa aksi ini dilakukan menjelang
Pilpres? Mungkinkah aksi demo tersebut digerakkan oleh pihak-pihak tertentu (titipan).
Pertanyaan ini pernah dilontarkan oleh politisi Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan (PDIP) Adian Napitupulu dalam kesempatannya hadir di salah satu
acara di stasiun televisi swasta.
Bagi penulis, pernyataan Adian
ini tidak bijak. Sebagaimana kita ketahui, mahasiswa dikenal sebagai pihak yang
netral dalam menyikapi problematika bangsa. Mereka berdiskusi, konsolidasi dan turun
aksi berdasarkan panggilan dari kegelisahan hati dan idealisme yang terpatri
rapi di sanubari. Mungkin Adian perlu diingatkan lagi tentang memori masa
mudanya, apakah ia juga mahasiswa titipan?
Berbeda dengan demonstrasi mahasiswa,
aksi demonstrasi yang dilakukan oleh guru honorer secara serentak di beberapa
daerah, lebih kepada urusan pribadi, yakni tentang janji pengangkatan Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dan sertifikasi. Apakah guru honorer itu juga digerakkan
oleh oknum tertentu? Kok rasanya sangat jahat jika tudingan itu dilontarkan. Bukankah
sebaiknya diakui saja, bahwa permasalahan di dunia pendidikan kita belum selesai
meski rezim telah berganti. Sehingga kegetiran yang dirasakan oleh para guru
honorer telah mencapai puncaknya dan harus diluapkan lewat aksi demonstrasi.
Goro-goro juga terjadi di lingkaran
internal pemerintah, yakni dari pihak Kementrian Perdagangan
(Kemendag) dan
Badan Urusan Logistik (Bulog). Saking panasnya goro-goro, Direktur Utama Perum
Bulog, Budi Waseso sampai mengatai, “matamu!,” kepada pihak Kemendag.
Permasalahan mereka bermula
ketika kebijakan yang diambil oleh Kemendag berbeda dengan Bulog terkait impor
beras. Singkatnya, pihak Kemendag mengklaim bahwa Indonesia butuh impor beras,
sedangkan Bulog mengklaim stok beras nasional sudah mencukupi. Dalam kasus ini,
kedua belah pihak memiliki data dan kepentingan masing-masing.
Dalam kasus ini, mungkin pertanyaan
Adian Napitupulu patut dicantumkan, jangan-jangan ada titipan dari mafia beras?
Hehe.
Melemahnya nilai tukar rupiah
atas dolar Amerika Serikat juga menjadi pemanas suasana. Di satu titik, dolar
berhasil mengerek angka dan menekan nilai rupiah di kisaran 15 ribu per 1
dolar. Pihak pemerintah, atau para menteri yang bertanggungjawab dalam urusan
keuangan cenderung diam dan tak muncul di muka publik untuk memberi penjelasan.
Dalam beberapa kali kesempatan, pemerintah mengatakan jika melemahnya nilai
tukar rupiah disebabkan karena adanya perang dagang yang terjadi antara China
dan Amerika Serikat. Penjelasan tersebut kerap disanggah oleh pihak oposisi dan
menganggap bahwa pemerintah gagal mengelola perekonomian negara.
Setelah semua goro-goro di atas,
kita masih akan menghadapi satu hal lagi yang memuakkan, yakni pertarungan para
politisi dan tim pemenangan di Pilpres dan Pemilu 2019. Selain isu ekonomi, kemungkinan
besar, isu lama yang digaungkan pada 2014 masih akan didengungkan pada Pilpres
dan Pemilu kali ini. Isu-isu turunannya juga banyak, dari perebutan legitimasi
ulama hingga dipakainya term ‘emak-emak’ sebagai komodifikasi politik. Bagi
penulis, isu utama dan turunan yang digaungkankan di tahun politik kali ini,
pembahasannya jauh dari substansi. Keberpihakan kepada wong cilik, penguatan ekonomi, pembangunan Sumber Daya Manusia
(SDM), dan pengusutan kasus pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM) akan menjadi
jargon-jargon untuk menarik massa belaka. Seperti yang sudah-sudah, semua janji
yang diobral para kandidat itu menguap di udara tak bersisa.
Goro-goro memang segmen yang
mengerikan. Namun di segmen tersebut juga muncul para Punakawan, yakni Bagong,
Gareng, Petruk dan Semar yang muncul untuk memberi peringatan bahwa harapan untuk
mengubah masa depan menjadi lebih baik masihlah ada. Namun siapakah Punokawan
ini?
Kehadiran Punokawan tidak bisa
kita tunggu sebagaimana mukjizat dari Ilahi. Bagi penulis, Punokawan adalah
gambaran dari orang-orang yang masih peduli dengan lingkungan di sekitarnya.
Bisa jadi Anda adalah salah satu dari Punokawan tersebut.
Dalam segmen Goro-goro, Punokawan
hadir memberi hiburan sekaligus petuah bijak untuk menuntun ummat menuju ke
arah perubahan yang lebih baik. Kurang lebihnya, Punokawan berperan sebagai
problem solver, entah itu dalam ranah gagasan atau eksekusi bersama para
Pandawa. Peran sebagai Punokawan ini sangat cocok untuk dilekatkan kepada para
aktivis dan kaum intelektual, karena merekalah yang memiliki kemampuan untuk
melakukan pembacaan atas kondisi masyarakat dan menemukan solusi bilamana muncul
sebuah permasalahan.
Namun perlu diingat, dalam segmen
Goro-goro ini juga ada kisah di mana seorang Petruk berhasil naik tahta sebagai
Raja dan menjadi gila kekuasaan, meski di sisi lain ia juga dikenal sebagai
Raja yang dermawan. Karena gila akan kekuasaan, Petruk jadi lupa daratan
melakukan apapun yang ia kehendaki. Akhirnya dengan wejangan dan petuah bijak
dari Semar, Raja Petruk pun melepaskan kedudukannya dan kembali sebagai rakyat
biasa. Pelajaran yang bisa diambil adalah, sebagai aktivis dan kaum
intelektual, jangan pernah terlena atau pamrih dalam melaksanakan tugas-tugas
kemanusiaannya. Namun bila tanggung jawab mendatangi, para aktivis dan kaum
intelektual harus siap mengemban tugas.
Di akhir cerita Goro-goro, segala
musibah, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan berhasil dilibas dan dikalahkan.
Punokawan sebagai pihak yang memegang kunci permainan berhasil memainkan
perannya sebagai aktor intelektual dalam melakukan transformasi sosial. Kita
sama-sama tahu, siapa Punokawan itu. Terlepas dari mereka adalah penjelmaan
dari para Dewa, Punokawan tetaplah muncul sebagai rakyat biasa. Meski begitu,
mereka telah berhasil membuktikan bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan
rakyat. Sama halnya dengan para aktivis dan kaum intelektual. Punya ilmu
setinggi langit dan kuliah di luar negeri sekalipun, mereka tetaplah rakyat
biasa yang harus kembali untuk mendampingi masyarakat guna mencipta peradabadan
yang lebih baik. Sekarang pertanyaannya, mungkinkah Punokawan akan muncul di
tahun 2018-2019 ini?
Tags:
Opini
