Film Roma : Alfonso Cuaron dan Kisah Klasik Perempuan

Penulis : Ayun
Sebuah film mahakarya dari tangan dingin sutradara kondang Alfonso Cuaron. Kisah perempuan dengan segala kerumitannya ia hadirkan dalam gambaran visual, yang bagi siapa saja akan menitikkan air mata. Termasuk saya, yang sejak duduk di bangku kuliah sangat tertarik dengan isu perempuan. Sebagai perempuan, tentu saja saya merasa dekat dengan adegan dalam alur cerita yang dikisahkan di film ini. Sebab film ini tidak berbicara tentang omong kosong belaka melainkan realita di kehidupan nyata.

Roma adalah kisah tentang perempuan yang digambarkan secara halus, lembut dan mempunyai ritme, sifat perempuan dalam film ini apa adanya tanpa dibuat-buat (pengalaman menonton saya). Berangkat dari kisah masa kecilnya, sang sutradara yang sekaligus menjadi sinematografer dalam film ini menceritakan tentang perempuan yang menjadi pembantu rumah tangga di kalangan keluarga kelas menengah yang terjadi pada tahun 1970-an di kota Meksiko. Dilansir dari Five Stars for Roma di laman BBC Culture, film ini merekam memori masa kecil sang sutradara dengan pengasuhnya bernama Libo.

Buat saya, menonton film Roma seperti melihat kebalikan dari film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak. Film yang sudah melanglang buana ke berbagai macam festival internasional, besutan seorang sutradara perempuan asal Indonesia yang sangat saya idolakan - Mouly Surya. Dalam filmnya ia bercerita tentang perempuan yang dihadapkan dengan persoalan yang rumit. Kasus pemerkosaan yang berujung pembunuhan demi menuntut keadilan. Antara film Roma dan Marlina, pada dasarnya sama-sama mempunyai kemiripan yaitu tentang persoalan perempuan.

Marlina seorang perempuan Sumba merupakan representasi perempuan Timur yang mempunyai karakter kuat, tegas dan sulit untuk menyerah dalam kondisi yang sulit. Sosok Marlina yang diperankan oleh Marsha Timoty, diperkosa dan sulit baginya untuk mendapatkan keadilan hukum karena lambannya petugas hukum di negeri ini. Mouly Surya sengaja menggambarkan karakter Marlina menjadi sosok perempuan yang tangguh dan tidak takut dengan perampok sekalipun. 
Gambaran visual yang diperlihatkan dalam film ini membuat tokoh utama menjadi orang yang patut diacungi jempol. Dengan dipenggalnya kepala si pemerkosa, Marlina mendapatkan sebuah kemenangan yang berbalut ketakutan dan kepedihan. Karena memaksakannya untuk mengalah lantaran ketidakadilan hukum.

Berbeda halnya dengan kasus yang digambarkan oleh Alfonso Cuaron. Sosok Yalitza Aparicio sebagai Cleodegaria "Cleo", yang menjadi salah satu pembantu rumah tangga dan pengasuh ke-empat anak majikannya Marina de Tavira yang berperan sebagai Sofia. Cleo,menjadi seorang perempuan polos yang taat terhadap majikan, merawat anak-anak dengan penuh kehangatan dan kasih sayang layaknya seorang ibu kepada anak kandungnya.

Di tengah kesibukannya sebagai pembantu rumah tangga yang setiap hari harus membereskan rumah, menyiapkan makan untuk anak-anak, ditambah lagi menyiram dan membersihkan tai anjing hewan peliharaan di garasi mobil, membuat hidupnya tidak mudah. Asalkan kalian tau itu semua berat Ferguso ! Tidak semua orang mampu melakukannya.

Cara Cleo untuk memanfaatkan waktu luangnya hanya sekedar pergi sesaat melepas lelah dengan salah satu temannya Adela yang sama-sama menjadi pembantu di rumah tersebut. Awal mula pertemuan Cleo dengan Fermin adalah saat ia keluar dengan Adela yang mempunyai pacar dan berteman dengan Fermin. Dari perkenalan Cleo dengan Fermin yang begitu singkat, membuat Cleo dihamili oleh Fermin tanpa pertanggungjawaban sedikitpun. Fermín atau Jorge Antonio Guerrero tiba-tiba menghilang dan meninggalkan Cloe begitu saja. Tentu kejadian ini membuat hidup Cleo semakin rumit dan runyam.

Sebagai perempuan, ini tentu tidaklah mudah, saya saat duduk menonton film ini tiba-tiba membayangkan kasus-kasus pemerkosaan yang kerap terjadi dengan berbagai macam latar belakang. Dimana kasus yang bikin ngilu hati ini adalah kasus pemerkosaan yang bebannya hanya ditanggung oleh si perempuan. Korban dari laki-laki yang penuh birahi dan suka ngacengan. Dalam film ini permasalahan yang dibahas amat kompleks. Seorang perempuan bernama Sofia semakin memperlihatkan kompleksitas persoalan yang dihadapi oleh perempuan.

Dalam film, Sofia digambarkan sebagai perempuan yang sibuk bekerja dan semua pekerjaan rumah termasuk mengurusi anak diserahkan kepada kedua pembantunya Cleo dan Adela. Walaupun demikian Sofia tetap digambarkan menjadi perempuan yang peduli dengan keluarganya. Yaitu dengan memberikan perhatian terhadap anak-anak dan suaminya. Akan tetapi di tengah perjalanan rumah tangganya ia memilih untuk bercerai. Hal inilah yang kemudian mengakibatkan rumah tangganya berantakan. Alasan yang sulit diterima memang, suaminya menceraikan Sofia lantaran memilih perempuan baru yang hadir di kehidupan mereka.

Dalam skena film ini, alasan yang memperlihatkan keruwetan hubungan antara sang majikan dengan suaminya tidak diceritakan secara gamblang. Alfonso Cuaron lebih banyak menceritakan detail tentang kegiatan dan rutinitas yang membosankan dari tokoh utamanya Cleo. Serta beberapa potongan skena yang menggambarkan kehangatan keluarga tersebut pada saat berkumpul. Sebagai pembantu rumah tangga yang sehari-harinya mengerjakan tugas-tugas rumah Cleo bisa diterima dengan begitu hangat oleh majikannya. Sehingga Cleo di akhir cerita dijadikan keluarga oleh sang majikan.

Akibat perceraian yang dialami oleh sang majikan, Cleo tetap bertahan untuk tetap membantu majikannya mengurus ke-empat anaknya. Dengan cara yang tak biasa dan penuh kasih sebagai sorang ibu Sofia memberitahukan kepada ke empat anaknya jika keluarganya sedang dalam masalah. Ia berjanji kepada anak-anaknya untuk bekerja menggantikan suaminya yang pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa alasan yang jelas.

Permasalahan rumah tangga yang digambarkan dalam film ini, tentu menjadi permasalahan yang serius. Karena tidak hanya persoalan dua orang akan tetapi nasib dan masa depan anak-anaknya. Alfonso Cuaron benar-benar menggambarkan adegan-adegan dalam film ini terlihat nyata. Walaupun ide cerita dalam film ini terdengar klise, akan tetapi cara bertutur sang sutradara lewat visual yang di tampilkan memberikan warna bagi penonton untuk dapat merasakan persoalan perempuan yang begitu kompleks.

Penggambaran karakter tokoh utama yang cenderung pendiam dan penurut sengaja digunakan oleh Alfonso Cuaron untuk menguatkan karakter dalam filmnya yang bernuansa hitam putih. Film yang biasa tapi syarat makna, tidak banyak sutradara yang mampu bertutur dengan gaya yang digunakan oleh mata kamera sutradara maestro Alfonso Cuaron. Karena ia mampu membuat penontonnya berpikir keras tentang masalah yang melanda perempuan.

Dengan hadirnya film ini semoga membuka mata hati para penonton untuk tidak menjadikan perempuan sebagai objek seksual semata. Selain itu, film ini adalah potret kehidupan nyata bagi para perempuan-perempuan yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Ada yang bernasib baik seperti Cleo adapula yang bernasib buruk hingga terjerat kasus pembunuhan dengan majikannya.

*Penulis Ayun sesekali dua pernah muncul di group WA Frame Nine films, tertarik dengan isu perempuan dan menjadi anggota Srikandi Lintas Iman. Ayun dapat disapa di akun IG : @ayun_425

Post a Comment

Previous Post Next Post