![]() |
| Penulis : Ariq Raihan |
Perempuan kecil itu datang kembali
Tanpa mengetuk pintu, ia sudah berada di sebelah kasurku
Iya membangunkanku dengan suara tangisnya
Aku terbangun kaget, tak ada satu katapun yang terlontar dari mulutku
Perempuan itu adalah perempuan yang bersemayam di kepalaku
Yang sering membisikan kata-kata seram dan mengerikan
Kini ia di sebelahku, amat nyata
Tangisnya kian kencang dan kedua tangannya mulai meraba leherku
Aku tak bisa bergerak dan berteriak
Aku hanya bisa pasrah ketika ia mulai mencekik leherku, cekikannya makin keras nafasku kian habis dan aku tak mampu melawan
Semua menjadi hitam pekat
Aku seperti masuk ke alam lain, alam yang jauh berbeda dengan alamku
Di sana aku bagai orang hilang tak tahu arah dan kebingungan
Tiba-tiba perempuan kecil itu menarik tanganku, ia menggandengku ke tempat yang lebih terang bahkan terang sekali sampai aku merasa silau
Ketika kubuka mataku perlahan perempuan itu sudah tidak ada
Hanya aku sendiri di sebuah tanah lapang yang luas
Aku berjalan terus mencari anak itu yang sudah entah kemana
Sampai aku merasa lelah
Aku bersandar di bawah pohon, dengan hembusan angin yang sepoi-sepoi aku ketiduran
Dan ketika bangun aku masih disini
Aku terjebak terjebak dalam mimpiku sendiri
Aku tidak pernah bisa balik ke alamku
Dan aku tidak tahu apakah tanah lapang asri ini adalah surga atau neraka
Namun hati kecilku berkata bahwa ini adalah neraka
Mengapa aku bisa meyakini bahwa ini neraka? Padahal tidak ada siksaan atau api panas
Aku meyakini ini neraka
Karena kesepian dan kesendirian disini lebih menyakitkan dari siksaan malaikat atau kobaran api panas
(2019)
Kepada Tanah Liat
(2019)
Kepada Tanah Liat
Kepada tanah liat, bawalah aku sebagai mayat, dengan sebungkus kain kafan
Kepada tanah liat, terimalah aku sebagai petualang yang kalah, yang pulang setelah mengembara jauh
Dengan hati penuh luka, Kesedihan, kegagalan aku serahkan mayat ini kepada liangmu
Kepada tanah liat yang gelap dan dingin, dan pengantar jenazah yang berjalan pulang, pertemukan lah aku kepada Sang Maha, yang pasti datang dengan sebilah pedang panjang, yang sudah siap menebas kepalaku
(2019)
*Penulis Ariq Raihan dapat dikontak melalui email ariq.raihan@gmail.com
