![]() |
| Penulis : Wahyu Febrianto |
Hari ini
Pada hari ini
Saya tak tahu mengapa terik matahari
Biasa saja
Biasa saja sambil menghirup asap gas buang kendaraan
Saya juga tak tahu tentang dinginnya malam
Yang selama ini dilalui sendiri
Ternyata hangat
Saya juga tak pernah melihat indahnya mentari pagi
Kalau kau tidak menyeretku dari tempat tidur
Mungkin saya tidak pernah melihat matahari terbit
Yang diam-diam muncul
Yang malu-malu memancarkan sinarnya
Ternyata ada maksud
Tidak, bukan aku membencinya
Saya suka dan saya melihat gerak geriknya
Ah seperti nasibku, sial, malu saya mengakui
Malu karena merasa tak pantas mengganggu kenyamanan manusia
Yang sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut tebal
Mengganggu zona nyamannya sangatlah tidak beretika,
Apalagi mengganggu haknya untuk tidur
Hari ini
Pada hari ini
Panas tak terasa
Debu tak berasa
Bahkan asap kendaraan tak terasa
Asal jalan saja menurutku
Toh, manusia zaman sekarang lebih mementingkan bahaya merokok
Daripada polusi jalanan
Padahal mereka hidup hampir setiap saat berada dijalan,
Bukan di area tempat merokok
Kawan sedarahku mati karena jalanan ibukota
Bukan karena kecelakaan
Tapi karena paru-parunya sudah tidak kuat menampung asap
Asap hitam, asap putih semua sama saja
Jadi kenapa kita mesti saling mencaci?
Saling berdebat bahwa pendapat saya atau kamu yang benar
Toh perusahaan rokok masih ada
Toh perusahaan mobil, motor, alat berat, mesin produksi tetap masih ada,
Belum lagi listrik yang kita pergunakan sehari-hari
Jadi kenapa harus merasa benar?
Kenapa saya harus merasa takut dengan asap?
Mau asap rokok atau kendaraan
Toh negara saja tidak memikirkan hal itu
Kalau negara memikirkan bahaya asap,
Sudah pasti kejadian kebakaran hutan untuk membuka lahan investasi tidak akan terjadi,
Sudah pasti perusahaan rokok tidak ada,
Sudah pasti perusahaan kendaraan bermotor tidak akan ada,
Sudah pasti perusahaan mesin tidak akan ada, dan
Bumi ini aman dari eksploitasi
Tidak, saya tidak ingin menjadi manusia munafik
Saya juga perlu akses jalan,
Juga perlu merokok,
Juga perlu kendaraan,
Juga perlu perusahaan agar selembar ijazah saya bisa berguna,
Bahkan saya juga perlu listrik untuk mengisi daya alat komunikasi.
Tapi
Apakah yang kita bisa adalah mencegah?
Apakah yang kita bisa hanya membatasi?
Apakah yang kita bisa Cuma mengkritik pemerintah?
Tidak pernahkah kita coba untuk tidak memberi makan keserakahan kita?
Ah, aku lupa
Kita manusia
Yang katanya makhluk ciptaan paling tinggi derajatnya,
Yang memiliki akal dan pikiran,
Namun kita mungkin lupa,
Kita lebih suka memberi makan nafsu,
Tapi lupa memberi nutrisi pada akal
Haha, sial memang . .
